Ditulis pada tanggal 17 Oktober 2013, oleh Adm, pada kategori Dekanat Note

PD 2aBerqurban sebagai momentum penyembelihan terhadap “ego duniawi” akan membawa kita kepada “citra ukhrawi” yang lebih kuat dan terimplementasi dalam kerendah-hatian dan kesantunan hidup. Simbol-simbol intelektual cenderung membawa manusia menuju kehidupan yang lebih materialistik dan hedonistik. Ketidakmampuan manusia untuk mengendalikan egonya akan semakin menguatkan jiwa materialistik yang hidup dan berkembang seiring dengan banyaknya kelebihan diri yang dirasakannya. Banyak contoh manusia-manusia yang telah terjerembab ke jurang petaka akibat tidak mampu mengendalikan egonya. Salah satunya  Namrudz, seorang raja besar Babylonia, penguasa dunia pertama yang juga seorang scientist, telah menyebut dirinya Tuhan dan meng-hegemoni ideologi tersebut ke seluruh masyarakatnya. Namun Tuhan telah mengutus seorang pemuda bernama Ibrahim, sang cendikiawan, seorang diri dengan kesederhanaan tanpa partai politik apapun, untuk menunjukkan kepada sejarah betapa rapuhnya pilar-pilar hedonisme Namrudz dan menjungkalkan Namrudz dari puncak kekuatan dan kekuasaannya. Tuhan telah menunjukkan betapa tak berartinya semua simbol-simbol intelektual Namrudz dan menggantinya dengan profil intelektual Ibrahim yang spektrumnya soft, rendah hati, santun dan berkomitmen tauhid  sangat kuat. Disinilah arti penting berqurban menjadi relevan untuk dikaitkan dengan kesantunan intelektual. Betapapun seorang intelektual telah menjamah semua medium keintelektualannya, dalam simbol-simbol strata dan jabatan akademik seperti doktor, profesor, ahli utama, dan lainnya tetaplah dituntut untuk menjaga dan mengaktualisasikan kesantunan inteletualnya. Kesombongan dan sarkasme intelektual justru akan membawa seorang intelektual terjerembab ke jurang petaka yang meng-konversi secara langsung performa intelektualnya menjadi profil kebodohannya sekaligus. Bukankah kita sering menjumpai dan melihat seorang intelektual yang arogan, sering marah-marah, bersikap tidak santun, nampak seperti, bahkan sejatinya adalah seorang preman yang tak berpendidikan. Kita semua mengharapkan agar kesantunan dan kecendikiawanan tersebut senantiasa menjadi performa sivitas akademika FMIPA UB khususnya dan kaum intelektual bangsa kita pada umumnya. [PD-II FMIPA UB].