Ditulis pada tanggal 22 Juli 2013, oleh Adm, pada kategori Dekanat Note

PD 2aMemperhatikan surat edaran Ketua UPT MKU Universitas Brawijaya tentang tawaran dosen fakultas menjadi dosen pengampu mata kuliah pengembangan kepribadian sangatlah menarik untuk didiskusikan. Diskursus ini dapat dipandang secara positif dimana dosen bidang minat dengan kompetensi keahlian juga mengajar tentang agama, budaya dan nasionalisme. Dalam konteks ke-mipa-an, seyogyanya sains dalam bentuk filosofi dan pragmatisnya haruslah diletakkan dalam frame spiritualitas dan nilai-nilai kemanusiaan yang teramat jelas diarahkan kepada pembentukan masyarakat madani sehingga jika dosen MIPA sekaligus mengajar agama atau budaya akan menghasilkan suatu simbiosis sinergik. Namun di sisi lain, apakah memungkinkan misi besar tersebut diaktualisasikan dalam tataran praktis. Tentu saja tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena kompetensi keilmuan seorang dosen harus dibina secara konsisten dan kontinyu dalam bentuk performa akademik standar seperti penelitian, publikasi, dan sejenisnya. Jika dosen MIPA sekaligus juga mengajar agama atau yang lainnya maka hal itu lebih kepada ranah yang belum atau bahkan tidak tersentuh formalisasi profesi, yang dalam konteks saat ini menjadi semacam pengabdian atas kerelaan sang dosen. Tetapi bagaimanapun juga, lepas dari alasan kurangnya SDM dalam pelaksanaan MKU, saya lebih memandang surat edaran tersebut dalam persepsi positif, paling tidak kita mencoba untuk memandang ilmu dan praktek keilmuan tidak hanya dari satu sisi kepentingan, yang seringkali kita persepsikan dalam kepentingan keduniaan an sih dengan domain yang berlebihan. Hal ini membuat produk ilmu pengetahuan hanya terhempas di bumi dan dikelola secara materialistik. Dengan sebuah terobosan radikal dimana dosen MIPA juga mengajar agama maka ada jalan untuk “melangitkan” produk ilmu pengetahuan, yang mewadahi ilmu dalam frame idealnya yaitu akhlakul karimah. Pribadi yang berilmu sekaligus berakhlak mulia inilah yang menjadi modal utama bagi kita untuk melangitkan sains karena mengajar agama tidak akan berhasil jika tidak dimulai dengan mengajar diri sendiri [PD-II FMIPA UB].