Aul–sapaan akrabnya– terbilang dosen yang sangat aktif meneliti. Hingga kini, ada delapan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) yang dihasilkan. Penemuan terbarunya dinamakan Kit Diagnostik Antibodi GAD 65 (sebutan KIT Immunochromatography Rapid Test Autoimmune GAD 65) untuk pasien prediabetes mellitus. Inovasinya itu terdaftar dengan paten Dirjen HAKI N0. ID 0.022.556.
Hasil penelitian yang digarap dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) itu, kini tersebar hingga ke kancah internasional. Misalnya ke Perancis, Taiwan, Thailand, Jepang, Spanyol, Madagaskar, dan Malaysia. ”Tersebarnya produk Kit Diagnostik Antibodi GAD 65 itu belum digunakan untuk pasien, tapi untuk kebutuhan riset saja,” jelasnya. Sambil menunjukkan produk risetnya yang terkemas rapi dalam kotak, bertuliskan for research only (hanya untuk penelitian).

Kata Aul, kini masih proses izin edar. Sebab, jika barang sudah diekspor dan diimpor, untuk kebutuhan pasien harus memiliki kelengkapan izin administrasinya. ”Kalau untuk hak paten dan izin produksinya, semua sudah siap,” bebernya.

Pada kesempatan itu, dia menunjukkan Kit Diagnostik GAD 65. Menurut dia, cara penggunaan alat tersebut, yakni dokter cukup memasukkan satu tetes darah pasiennya ke dalam alat yang dia ciptakan. Lalu kertas itu diberi tetesan cairan buffer dan tetesan cairan khusus.

Kemudian, jika muncul 2 garis pada alat tes itu (seperti alat tes kehamilan), artinya pasien positif terindikasi diabetes mellitus. Namun, jika yang muncul hanya satu garis pada alat tes itu, maka dinyatakan negatif diabetes mellitus.

Aul menyatakan, alat tersebut sangat pas untuk mendeteksi penyakit diabetes secara dini untuk pasien diabetes mellitus tipe 1. Diabetes mellitus bisa menyerang seseorang karena tubuhnya tidak mampu memproduksi hormon insulin sendiri. Sedangkan hormon insulin sangat berpengaruh pada tubuh. Kekurangan hormon insulin bisa meningkatkan kadar gula dalam darah dan urine.

Dalam obrolan pagi itu, dia juga menyampaikan keunggulan dari Kit Diagnostik GAD 65. Alat tersebut sudah melalui tes uji laboratorium dan pasien di lapangan pada manusia. Hasilnya ternyata bagus, tingkat sensitivitasnya 91,67–100 persen.

Selain itu, alat tersebut juga telah melewati uji stabilitas sehingga saat ini siap untuk diproduksi masal dan dipasarkan. Target pasar diharapkan bisa sampai ke puskesmas, jadi tidak hanya ke klinik-klinik maupun rumah sakit besar saja.

Produksi yang dia lakukan selama ini untuk memenuhi kebutuhan beberapa laboratorium yang meminta rujukan hasil uji Kit Diagnostik untuk memperkuat diagnosis dokter. ”Tahun 2017, kami sudah mulai memproduksi sejuta Kit Diagnostik GAD 65 dan sedang menunggu izin edarnya juga,” beber perempuan asal Tuban ini.

Keunggulan inovasinya tersebut memang sangat ekonomis, yaitu hanya dibanderol dengan harga Rp 300 ribu per alat. Padahal, untuk tes diabetes mellitus di laboratorium di luar negeri membutuhkan biaya minimal 150 dolar AS atau sekitar Rp 1,8 juta.

Selain itu, alat ini juga memiliki banyak kelebihan. Di antaranya mampu mendeteksi awal terjadinya autoimmune diabetes (gangguan antibodi diabetes) sehingga dapat dipraktikkan pada bayi dan anak-anak yang memiliki riwayat keluarga penderita diabetes mellitus.

Aul menyebutkan, nama produk temuan tersebut diambil dari berbagai bahan penyusun dalam membuat Kit Diagnostik GAD 65. Di antaranya GAD 65 atau Glutamic Acid Decarboxylase yang merupakan antibodi penanda autoimun yang muncul pada serum penderita diabetes.

Dalam pembuatannya, Kit Diagnostik GAD 65 berasal dari bahan yang halal. Sebab, pembuatan Kit Diagnostik hingga saat ini berkembang menjadi DM Tipe 1 yang diisolasi dari otak sapi.

Dia mengulas, untuk mendapatkan antibodi terhadap GAD 65 diawali dengan mengisolasi otak sapi, kemudian dimurnikan protein GAD-nya dan dilakukan banyak analisis menggunakan tikus, kelinci, kuda, dan monyet.

Akhirnya diperoleh antibodi monokronal terhadap GAD 65 yang murni. Kemudian dikembangkan antibodi GAD 65 dari rekombinasi yang berasal dari gen manusia sehingga tidak ada penolakan pada saat pengujian.

Salah satu hal yang harus dicatat bahwa pengembangan Kit Diagnostik Antibodi GAD 65 di Institut Biosains UB harus berbasis pada bahan-bahan yang halal dan produk nasional atau sendiri.