Rabu (4/12), Universitas Brawijaya mengukuhkan Dr. Drs. Warsito, MS sebagai Guru Besar Ilmu Kimia Organik dan dan Luchman Hakim, S.Si, M.Agr.Sc, Ph.D sebagai Guru Besar bidang Ilmu Manajemen Lingkungan dan Pariwisata. Pengukuhan dilaksanakan di gedung Widyaloka UB dihadiri para senat Universitas, Pejabat Fakultas, kolega, mahasiswa dan para undangan.

Acara dibuka oleh ketua senat Universitas Brawijaya dan dilanjutkan dengan pembacaan riwayat hidup kedua calon guru besar. Pada pengukuhan tersebut, Dr. Drs. Warsito, MS mengawali pidato pengukuhan berjudul Minyak Atsiri Potensinya Sebagai Bahan Baku Obat dan Sintesis Obat untuk Mendukung Program Kemandirian Obat Nasional.  Penyakit Degeneratif yang tidak segera tertangani seperti hipertensi dapat berpotensi menyebabkan penyakit lain seperti jantung, diabetes, gagal ginjal termasuk penyakit hati. Ironisnya ketersediaan obat untuk menangani penyakit tersebut, Industri farmasi di Indonesia belum mampu untuk membuat bahan baku obat. Dia menyebutkan Indonesia masih import 60% bahan baku obat dari China dan 30% dari India.  Minyak Atsiri di Indonesia dapat berpotensi sebagai bahan sintesis obat yang terbuat dari tanaman aromatik dapat terbuat dari kulit kayu, buah, daun dll.

“Sangat disayangkan, padahal sebenarnya Indonesia memiliki sumber daya alam yang dapat digunakan untuk bahan baku obat, salahsatunya adalah minyak Atsiri”, ujar dosen asal Trenggalek tersebut.

Menurut Warsito, minyak Massoia Papua adalah jenis Atsiri termahal didunia. Manfaat dari minyak ini adalah untuk obat tumor, kanker, jantung, anti aflamasi, anti mikroba juga sebagai aromaterapi.

Warsito menambahkan, meningkatnya jumlah penderita penyakit degeneratif di Indonesia menuntut pemerintah untuk dapat menyediakan obat yang memadai baik kuantitas maupun kualitasnya. Minyak Atsiri adalah salahsatu harapan untuk dapat memberikan solusi pemerintah agar dapat menyediakan bahan baku obat secara mandiri.

Di sesi berikutnya, acara dilanjutkan pidato pengukuhan oleh Luchman Hakim, S.Si, M.Agr.Sc, Ph.d.  Dalam pidatonya yang bertema tentang pemanfaatan ekowisata untuk mewujudkan spesial tourism di Indonesia. Luchman menyebutkan  bahwa atraksi spesies adalah jantung wisata yang dapat berpotensi mengembangkan pariwisata di Indonesia. Disisi lain dampak negatif dari pembangunan wisata adalah perubahan perilaku hewan dan kepadatan  pengunjung di area wisata. Luchman mengatakan bahwa pembangunan ekologi pariwisata menjadi penting bagi pembangunan Indonesia.

“Jika wisata alam meningkat, maka Indonesia bisa menjadi spesial Tourism”, Ujar Dosen asal Bunulrejo Malang tersebut.

Dalam sambutannya, Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, AR., M.S. sangat mengapresiasi Fakultas MIPA UB sebagai teladan dalam percepatan Profesor di lingkungan UB. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah profesor di FMIPA meningkat terus dan hampir tiap bulan mengadakan syukuran.

“Selamat pada FMIPA yang telah jadi bintang dalam percepatan profesor dan menjadi tauladan bagi Fakultas yang lain”, Ujar Rektor UB.(yogie)