Cintya Paramitha, mahasiswa Jurusan Biologi angkatan 2017 lolos 5 besar dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat (PILMAPRES) Universitas Brawijaya tahun 2020. Cintya terpilih menjadi 5 besar PILMAPRES setelah melalui proses seleksi yang ketat. Standar penilaian meliputi indeks prestasi, karya ilmiah, prestasi, serta kepribadian baik.

Mahasiswi asal Kp. Panyandungan, Desa Binong, Kecamatan Maja Kabupaten Lebak  Banten ini berawal dari rekomendasi dosennya untuk mengikuti seleksi mahasiswa berprestasi. Setelah menyingkirkan beberapa kompetitor akhirnya Cintya masuk 3 besar di seleksi mahasiswa berprestasi tingkat Fakultas. Tak lama kemudian ia terpilih menjadi MAWAPRES utama FMIPA diakhir bulan Februari 2020.

Putri dari Alm. Bapak Supriyatna dan ibu Ilah ini memiliki motivasi ikut PILMAPRES  untuk belajar dan mengasah jiwa kompetisi diajang lomba – lomba. Disamping itu ia juga ingin bertukar ide dengan kompetitornya serta ingin memberikan karyanya  untuk negeri. Perempuan alumni SMA N 1 Rangkasbitung ini sangat bersyukur sampai saat ini terpilih menjadi duta Fakultas MIPA diajang PILMAPRES. Saat ini ia sedang berjuang untuk menyalurkan idenya dalam karya ilmiah untuk seleksi tingkat UB.

Pada seleksi tingkat Universitas ini, ada 6 mahasiswa yang bersaing memperebutkan satu tiket unggulan. Para peserta pilmapres tersebut berasal dari masing-masing fakultas, antara lain Alwan Afif Fadhillah (Pertanian), Denis Levan Hakim (Kedokteran), Izza Linatul Khariroh (Perikanan dan Ilmu Kelautan), Maulana Derifato A.(Vokasi), Sherina Manuel Anggina (Ilmu Budaya). Seleksi berupa presentasi secara daring yang baru diselenggarakan 27 Mei 2020 lalu.

Cintya mengambil topik tentang  membuat obat herbal dari tanaman yang memiliki bioaktivitas sebagai antivirus Demam Berdarah. Bioaktivitas yang dimiliki bunga kecombrang (Etlingera elatior)  dengan kandungan minyak essensial mampu memberikan potensi pencegahan virus, menghindari sitotoksis atau efek negative terhadap sel, dan membuat virion semakin rentan terhadap sistem penghilangan virus melalui sistem imun. selain itu, senyawa terpenoid mampu menghambat sintesis DNA/ RNA virus.

Bioaktivitas dari Bunga kecombrang (Etlingera elatior) sangat berpotensi besar untuk dikembangkan. Selain itu, Bunga kecombrang sudah biasa digunakan sebagai obat tradisional, tetapi belum maksimal dalam pemanfaatan sebagai obat anti-virus. Selain itu, Bunga kecombrang juga dapat ditemui dengan mudah di sekitar pekarangan rumah. Oleh karena itu, tumbuhan ini sangat berpotensi dalam mengatasi demam berdarah dengue karena dapat ditinjau dari kandungan fitokimia tanaman tersebut.

Etlingera elatior memiliki berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, terpenoid, tannin, dan minyak esensial. Kandungan tersebut memiliki bioaktivitas yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi permasalah penyakit demah berdarah dengue. Demam berdarah dengue disebabkan karena adanya virus Dengue dari vector nyamuk yang dapat berkembang di dalam tubuh manusia. oleh karena itu, perlu dilakukan penyeimbangan kembali dengan adanya penambahan zat-zat tertentu seperti antivirus.

“Inovasi ini mendukung prioritas pemerintah Indonesia di bidang kesehatan seperti mengendalikan penyakit infeksi dan tidak menular, harapannya banyak masyarakat Indonesia yang terbebas dari virus dengue maupun virus lainnya. Karena inovasi ini mampu berperan menghambat replikasi Flavivirus lainnya. Gagasan ini juga mendukung dan akan mewujudkan Gerakan Masyarakan Hidup Sehat (GERMAS), serta Program JATIM SEHAT dari pemerintah Provinsi Jawa Timur”, Ujarnya.