Fakutas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universits Brawijaya mengadakan Webinar Series  pada Rabu (3/2) melalui via daring dengan menggunakan Zoom serta Live YouTube . Adapun tema yang diangkat ini berkaitan dengan Collaborations between Academics and practitioners in succeding Indonesia’s Geothermal Exploration Program.

Dalam Webinar ini menghadirkan beberapa nara sumber antara lain, Profesor Rosalind Archer (Direktur Geothermal  Program, University of Auckland, New Zealand), Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc (Direktur New and Renewable Energy Conservation of Indonesia), Dr. John O’Sullivan (Leturer / Geothermal Modelling Expert of Geothermal Institute, University of Auckland, New Zealand).

Dekan FMIPA, Prof. Widodo, M.Si, Ph.d.Med  dalam sambutannya menyatakan kegiatan semacam ini sangat penting apalagi termasuk dalam kegiatan kampus merdeka karena akan meningkatkan kapasitas mahasiswa. Dekan sangat senang dengan adanya Webinar ini dan berharap memperoleh manfaat yg besar bagi masyarakat Indonesia terutama bidang Geothermal.

Dalam sambutannya, Prof. Sukir Maryanto, M.Si., Ph.D sebagai Kepala Lembaga Volcanologi Universitas Brawijaya berharap generasi muda bersemangat dalam mengikuti acara ini.

“Kegiatan ini merupakan konsen dari kami, mudah-mudahan kita bisa berkiprah dengan  generasi muda kita”. Ujar Sukir.

Sebagai narasumber pertama, Dirjen EB TKE  Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc menjelaskan capaian kinerja dalam 5 tahun terakhir. Tahun 2015 capaian kontribusi energi nasional  diangka 5% dan sampai saat ini naik menjadi 11,5%. Ia mengatakan pemanfaatan Geothermal saat ini masih cukup rendah. Pemerintah menargetkan mencapai 23%  ditahun 2025 dan saat ini sudah mencapai 11%. Ia mengatakan secara potensi panas bumi di Indonesia berada di urutan kedua setelah Amerika yakni 23.765 MW sementara yang sudah dikelola sekitar 2.130 MW.

“Kita mentargetkan ada 7000 MW panas bumi ditahun 2030, barangkali 100 pembangkit harus kita tambah, sementara masih 2000 an”, jelasnya.

Dadan berharap jika Indonesia memiliki metode mengelola Geothermal tanpa harus mengebor dulu, ini akan menghasilkan pengelolalan listrik yang lebih ekonomis dan bisa diserap PLN.

Di sesi kedua, menurut narasumber Rosalind Archer, New Zealand diberkahi dengan kekayaan Geothermal dan menjadi pelopor dalam pengembangan pembangkit listrik Geothermal berskala besar sejak 1950. Saat ini New Zealand menggabungkan pengalamannya dengan penelitian dan inovasi terbaru untuk memanfaatkan potensi Geothermalnya dengan biaya bersaing dan berkesinambungan bukan hanya di New Zealand tapi juga di wilayah lain seperti halnya di Indonesia. Sejak kepemimpinan Presiden Suharto hingga Presiden Joko Widodo, New Zealand membuat penelitian – penelitian dan pengembangan bersama energi Geothermal.

Sesi berikutnya,  John O’Sullivan menjelaskan Geoscience tools sangat berkembang akhir akhir ini, namun metode untuk pengeboran dan menemukan target yg baik belum berubah,masih berdasarkan data penafsiran subyektif. Saat ini terdapat peluang untuk inovasi alurkerja dalam eksplorasi Geothermal di Indonesia.

John menggunakan Prinsip Modeling yang diantarabya Reliability (pendekatan teruji dan terbukti, transparan) , Best Practice, Value Delivered by Modelling (mendukung keberlanjutan project).

Sementara itu, dalam membuat model, ia menggunakan beberapa tools antara lain, AUTOUGH 2, TIM (visualization and calibration tool), PyTOUGH (Powerful Scripting library for Geothermal Reservoir Modeling. Wiwera (Powerful New Geothermal Simulator.

Model geologi 3 dimensional dibutuhkan pada proses eksplorasi dan pengembangan lapangan panas bumi untuk memberikan visualisasi yang terintegrasi terhadap data yang telah dimiliki. Proses pembuatannya membutuhkan perangkat lunak yang mampu memodelkan struktur dan hubungan antar formasi geologi, mampu melakukan integrasi model dengan data sumur bor atau data tambahan lainnya, memiliki kemampuan menginterpolasi yang tepat, menghasilkan model yang dapat digunakan pada sarana pemodelan lanjutan, dan memilki efisiensi yang baik dalam proses pembuatannya. Aspek-aspek tersebut dibutuhkan untuk menghasilkan model yang baik dan mudah diubah ketika mendapatkan data baru. Proses pembuatan model geologi 3 dimensional sistem panas bumi terdiri dari lima proses yaitu input dan kalibrasi data, pembuatan model struktural, pembuatan model satuan geologi, penyatuan model struktural dan satuan geologi, dan analisa kualitas model. Perangkat lunak Leapfrog Geothermal ® adalah salah satu perangkat lunak yang memenuhi aspek-aspek tersebut. Model yang dihasilkan dapat membantu visualisasi dan pemahaman kondisi geologi, penyebaran struktur, dan interaksi antara keduanya dengan sistem panas bumi. Model yang dihasilkan juga dapat digunakan sebagai dasar dalam pembuatan model dan simulasi reservoarnya. Dalam paparannya, John menjelaskan Keuntungan 3D Conseptual model menggunakan Leafprog adalah mudah membuat irisan, mudah bergerak dg beberapa tampilan, mengetahui komponen individu seperti struktur, Geologi, profil yg baik dan pembentukan kuntur suhu.

“We are world-leaders in applying established Mathematical techniques commonly used in petroleum and groundwater reservoir modelling to geothermal models, All the models then provide forecast P90/P10 statistics can be calculated to support decicion-making “, ujar John.