Dr. Sunaryo dikukuhkan sebagai Profesor ke-25 Fakultas MIPA

  • Post author:
  • Post category:Berita
  • Reading time:5 mins read

Prof. Dr. Sunaryo, S.Si., M.Si. dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam bidang Ilmu Geofisika dan Eksplorasi Sumber Daya Alam, Rabu (25/8). Dalam Upacara Pengukuhan yang dilangsungkan di Gedung Widyaloka UB, Sunaryo menyampaikan pidato berjudul “Peranan Ilmu Geofisika dalam Mitigasi Bencana Alam”.  Pria kelahiran Nganjuk ini merupakan Guru Besar ke-25 di FMIPA dan ke-197 profesor aktif serta ke-284 dari seluruh profesor di UB. 

Dalam sambutannya, rektor Universitas Brawijaya (UB),  Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR.  menjelaskan bahwa UB saat ini menduduki ranking ke 7 dari segi jumlah profesor yang aktif di tingkat Nasional. Sementara Universitas Gajah Mada masih menduduki ranking pertama.

“Kita harus terbang mengejar ketinggalan ini, karena salah satu kelemahan dari kita adalah SDM”, paparnya.

Ia mengatakan bahwa tantangan profesor cukup berat, antara lain mendapat tugas mencetak para doktor, mendirikan dan mengelola program studi pascasarjana dan melakukan penelitian dengan melibatkan mahasiswa pascasarjana serta mempublikasikan jurnal baik Nasional maupun Internasional.

Sementara Ketua Senat UB, Prof. Dr. Ir Arifin MS. menyampaikan ucapan selamat dan syukur atas bertambahnya jumlah Guru Besar di UB.

“Tentu kita sangat  bersyukur karena dengan bertambahnya jumlah profesor ini akan mampu mengangkat nama UB”, ujarnya

Dalam pidatonya, Sunaryo mengungkapkan bahwa Indonesia terletak pada pertemuan 3 lempeng utama. Di selatan terdapat indoaustralian, sebelah utara ada eurasia dan sebelah timur ada pasifik. Akibat dari posisi ini maka lebih dari 500 gunung api tersebar di Indonesia, ada lebih dari 129 gunung api aktif, 70 diantaranya masih meletus dalam 400 tahun terakhir.  Dampak positifnya, terbentuk mineral radioaktif, logam, nonlogam, batubara, gas bumi dan geothermal. Sedangkan dampak negatifnya berupa gempa bumi, gunung meletus, tsunami, tanah longsor dan lainnya. 

Ia menjelaskan bahwa Ilmu geofisika merupakan bidang ilmu yang menerapkan kaidah – kaidah ilmu fisika untuk mengetahui informasi bawah permukaan bumi melalui pengukuran dipermukaan bumi. Pengkombinasian dengan ilmu lain, maka struktur, kandungan informasi bawah permukaan bumi dapat dimodelkan dan di interpretasi. Penggunaan ilmu geofisika pada kebencanaan bisa dilakukan mulai upaya mitigasi pra bencana. Sayangnya saat ini di negeri kita penanganan bencana masih banyak dilakukan pada tahapan tanggap darurat dan rehabilitasi (paska bencana).

“Geofisika layaknya Ultra SonoGrafi  bagi seorang dokter”, ujarnya.

Menurutnya, dengan semakin banyaknya bencana di Indonesia, saat ini diperlukan rekayasa bawah permukaan dengan tahapan eksplorasi guna mendapatkan gambaran kelayakan untuk  digunakan sebagai solusi bencana maupun eksploitasi potensi. 

Dalam beberapa dekade perkembangan ilmu geofisika, akuisisi modeling masih dilakukan sendiri – sendiri yang berakibat banyak kesalahan yang menjadi kelemahan seperti keterlambatan data. Namun akhir – akhir ini semua sudah terintegrasi dan banyak alat yang diproduksi dan dikombinasikan dengan software. Sementara di era Industri 4.0 adalah sebuah terobosan dimana big data internet dan pengolahan modeling lebih cepat dengan machine learning dan pengamatan data menggunakan IoT (Internet of Thing). 

Dalam penelitiannya, ia mencontohkan studi kasus bencana longsor sepanjang 39 ha di wilayah Gunungsari kecamatan Bumiaji kota Batu. Tujuan dari penelitian tersebut adalah mendapatkan stabilitas dari bidang longsor (F). Menurutnya longsor akan terjadi jika ada kemiringan bidang longsor (slope) dan kelebihan batuan yang terdapat diatasnya. Dengan mengetahui kemiringan slope dan ketebalan lapisan diatasnya, maka dapat hitung nilai kestabilan slope (F) dan dapat dilakukan rekayasa agar kejadian longsor dapat dicegah.

Sementara dalam studi kasus gempa bumi, Sunaryo menuturkan bahwa gempa terjadi akibat daya dukung tanah tidak dapat mengimbangi kekuatan dari gempa. Faktor yang mempengaruhi adalah peak ground acceleration (PGA). Semakin padat tanah semakin rendah nilai peak groundnya, sementara nilai peak ground yang besar berpotensi terkena dampak gempa lebih besar.  Setelah dilakukan pengolahan dan interpretasi diperoleh rekomendasi sebagai upaya mitigasi bencana yakni pada bidang longsor stabil digunakan sebagai penampungan penduduk. Sedangkan di bidang relokasi tidak stabil dapat dilakukan rekayasa yakni, mengurangi kelebihan ketebalan beban batuan, membuat bangunan sipil berbentuk tembok penahan dan melakukan eco-engineering melalui penanaman vegetasi yang berakar.

Studi kasus ketiga adalah tentang kekeringan, berdasarkan data BNPB terdapat 2347 desa pada 95 kabupaten yang terletak di 7 propinsi di Indonesia mengalami kekeringan. Sunaryo menggunakan metode geofisika geolistrik untuk mendapatkan potensi ABT pada kasus daerah rawan kekeringan. Dalam hal ini lokasi yang diteliti adalah 17 desa di 5 kecamatan kabupaten  Blitar. Dari penelitian yang dilakukan dengan mengukur aquifer yang baik, didaerah tersebut secara umum air masih terdistribusi pada kedalaman 50 meter sampai dengan 150 meter. Hasil analisa menyimpulkan bahwa didaerah tersebut, air dapat dikelola dengan cara melakukan bor sumur dalam.

Dalam kesimpulannya, Sunaryo mengatakan bahwa ilmu geofisika memegang peranan penting dalam memecahkan berbagai masalah pada bawah permukaan bumi sebagai basis data rekayasa.

“Dalam bidang mitigasi bencana, sudah saatnya peran pada tahapan pencegahan (pra bencana) lebih ditingkatkan agar kejadian bencana dapat ditekan bahkan dihindari”, ujarnya.