Sembuh dari COVID19, Staf Tendik Ini Bersyukur dan Kembali Beraktifitas Normal

  • Post author:
  • Post category:Berita
  • Reading time:6 mins read

Seiring dengan banyaknya kasus penambahan jumlah terindikasi COVID19 yang bahkan berujung ke kematian, berbagai seruan kini muncul untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan. 

Sejumlah orang menceritakan pengalaman menghadapi COVID19 yang dideritanya selama berminggu – minggu bahkan berbulan – bulan.

Siapa menyangka seorang staf tenaga kependidikan Fakultas MIPA Universitas Brawijaya mengidap gejala – gejala Virus Corona sejak bulan Desember 2020 lalu.

Vira Prayoga, 52 tahun semenjak saat itu berjuang dengan masalah kesehatannya. Wanita asli Kota Malang ini berkata bahwa ia mulai merasa kurang enak badan pada Sabtu, 19 Desember 2020. Ketika itu ia dan suami sedang bepergian keluar kota dalam rangka kegiatan pelayanan keagamaan yang diembannya. Vira yang saat ini bertugas di bagian akademik FMIPA UB ini adalah seorang penganut agama kristen yang senantiasa menemani suaminya untuk memberikan ceramah agama. 

Semenjak itu ia pun merasa kesulitan bernafas dan mulai mengkonsumsi vitamin biasa. Namun karena tak kunjung sembuh akhirnya ia memutuskan berobat ke rumah sakit. Tak disangkanya, beberapa rumah sakit yang dikunjungi menolaknya karena ternyata kadar saturasi oksigennya sekitar 75-78 %Sp02, padahal normalnya orang sehat memiliki kadar saturasi oksigen  95-100 %Sp02. Menurut dokter hal ini mengindikasikan terkena COVID19 sesuai dengan ciri – cirinya, namun Vira masih saja belum mau cek swab / antigen karena ketakutan.  Akhirnya Vira pun dilarikan ke rumah sakit Mardi Waluyo Singosari mulai 25 Desember 2020 dan pihak medis akhirnya merawatnya selama empat hari, semenjak masuk rumah sakit itu lalu ia dinyatakan positif COVID19. Usaha dan doa pun terus dipanjatkan, namun kondisi Vira tak kunjung membaik. Ia mengatakan setelah di lakukan rontgen paru, terdapat flek putih pada gambar paru – parunya. 

“Saya belum cek swab atau rapid sama sekali, karena takut terjadi sesuatu dan mental jadi down. Dan saya tidak tau ketularan dari siapa dan dimana. Waktu itu saya benar – benar sulit bernafas, lemas  dan merasakan seluruh tubuh saya tidak nyaman sama sekali. Makan dan minum pun harus saya paksa karena nafsu mulai berkurang dan saya kesulitan menelan makanan. Tiap malam saya merasa ada yang aneh di paru – paru karena ada gerakan tak wajar ”, ujarnya.

Sementara itu ia pun berusaha mencari alternatif rujukan dan berharap ada pertolongan Tuhan untuk kesembuhannya. Akhirnya ia pun dirujuk ke rumah sakit Siloam Surabaya pada  29 Desember 2020. Setibanya di rumah sakit Siloam, Vira pun langsung dipasang ventilator yang dimasukkan melalui mulut untuk membantu pernafasan. Dokter memutuskan untuk melakukan bius total agar penanganan lebih mudah. 

“Saya di Black-Out dan diberi obat Aztemra (antivirus)  yakni semacam antibiotik dari Swiss yang harganya 17 juta berfungsi meredam peradangan dan mengurangi inflamasi akibat infeksi dan obat Plasma Convalesen melalui selang infus yang berfungsi menghambat kinerja Virus agar tidak masuk ke sel paru – paru. Saya sudah habis 2 ampul Aztemra dan 1 Plasma selama 10 hari disana”, ujarnya. 

Menurut Vira, ia sempat mengalami diare dan sempat perdarahan ketika perawatan di ICU, jantungnya bengkak dan mengalami kekentalan darah. Dokter pun menyuntikkan obat untuk mengencerkan darahnya.

“Selama perawatan di ICU, pembayaran obatnya kami tanggung sendiri dan harus dibayar sebelum obat diberikan untuk perawatan. Syukurlah waktu itu suami saya benar – benar mengusahakan semuanya demi kesembuhan saya, jadi begitu tranfer uang ke rumah sakit baru obatnya disuntikkan melalui infus”, ungkapnya.

Sepuluh hari di rawat di rumah sakit Siloam, akhirnya kesehatannya semakin pulih dan tersadar.  Dokter pun melakukan cek kadar oksigen dan menunjukkan angka 92%Sp02. Pada tanggal 11 Januari 2021 Vira pun dipindahkan keluar ICU dan ditempatkan diruang rawat inap. Alat ventilator pun dilepas dan hanya mengandalkan obat dan tabung oksigen selama pemulihan. 

“Saya bersyukur ketika bisa tersadar dan membuka mata pertama kali pasca dirawat di ICU, dan bisa bernafas lebih lancar”, ujarnya.

Menurut info dari adiknya, ada 6 orang yang sedang dirawat bersama dengan Vira. Dan beberapa ada yang meninggal ketika dirawat di ICU rumah sakit Siloam Surabaya. Selama diruang inap, Vira masih di infus dan bernafas dengan bantuan oksigen. Menurutnya, oksigen harus tetap tersedia dan sangat membantu pemulihan. Kebanyakan orang yang terserang COVID19 meninggal karena tidak tersedia oksigen selama pemulihan. Oleh karenanya, ia menyarankan untuk selalu berjaga dan menyediakan tabung oksigen ketika terinfeksi  dan selama pemulihan dari COVID19. 

Selama pemulihan, dokter menyarankan untuk belajar bergerak dan beraktifitas karena pasca perawatan di ICU, tubuhnya tak bergerak sama sekali. Berselang seminggu di rawat inap, kondisi Vira mulai berangsur membaik. Dan pada tanggal 21 Januari 2021, akhirnya Vira pun sudah diijinkan pulang oleh dokter. 

Menurut Vira, ia mengkonsumsi multivitamin BECOM-C KAPLET yang mengandung kombinasi Vitamin B Kompleks, Vitamin C, Nicotinamide, dan Kalsium Pantotenat. Multivitamin ini digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan dan penyembuhan, lalu Xarelto yang berfungsi mencegah pembekuan darah seharga lima puluh ribu rupiah yang diminum sehari sekali di pagi hari. Hari – harinya dihabiskan dengan konsumsi obat, vitamin dan bernafas dengan oksigen hingga akhir bulan Februari. Setelah beberapa minggu isolasi mandiri dirumah, akhirnya Vira pun mulai bernafas dengan normal dan kondisi tubuhnya mulai pulih dan sembuh.

“Saya sudah habis sekitar 40 juta rupiah untuk membeli obat saja dan kabarnya pihak rumah sakit mengklaim pada pemerintah untuk biaya operasional penanganan perawatan saya mulai dari ICU sampai boleh pulang sebesar 630 juta rupiah”, paparnya.

Vira mengungkapkan rasa syukur pada Tuhan yang telah memberinya kesembuhan dari COVID19 yang dideritanya selama kurang lebih tiga bulan hingga beraktifas normal saat ini. Ia pun juga merasa sangat terbantu dengan dukungan pemerintah pada penderita COVID19, pasalnya biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan sangat fantastis atau besar sekali dan tidak semua orang memiliki keuangan yang baik. 

Menurutnya, walaupun penderita telah diberi obat yang mahal dalam perawatannya, tanpa pertolongan Tuhan, semua akan mustahil. Ia berharap banyak orang akan selalu menjaga kesehatannya dan selalu waspada ketika berinteraksi dengan orang lain dimanapun berada. 

Vira berpesan pada segenap kawan, rekan, kolega dan juga semua masyarakat agar menjaga kebersihan, dengan memakai masker ketika berinteraksi dengan orang diluar rumah, mencuci tangan dengan sabun, menghindari kerumunan dan tak lupa selalu berdoa agar Tuhan terus memelihara kesehatan kita semua dan  menyelamatkan kita dari musibah pandemi global ini.  (yogie)