Lulus Tanpa Ujian Terbuka Disertasi, Hasan S. Panigoro Catat Prestasi Baru Prodi S3 Jurusan Matematika

  • Post author:
  • Post category:Berita
  • Reading time:7 mins read

Hasan S. Panigoro mencatat sejarah baru di Pascasarjana Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya (FMIPA UB). Pria kelahiran Gorontalo 1 Mei 1985 ini berhasil menyelesaikan Program Studi Doktor (S3) Matematika tanpa ujian terbuka disertasi dengan masa studi 3,5 tahun. 

Disertasi  merupakan karya ilmiah tertulis yang menjadi kewajiban mahasiswa yang disusun secara individual berdasarkan hasil penelitian empiris. Bagi mahasiswa di pascasarjana, disertasi sekaligus menjadi salah satu syarat menyelesaikan studi dan meraih gelar akademik sesuai dengan prodi yang diminatinya. 

Sesuai dengan Peraturan Rektor No. 66 tahun 2016 dan juga Pedoman Pendidikan Program Doktor FMIPA UB, bahwa disertasi dapat dikonversikan ke dalam jurnal international bereputasi bagi mahasiswa yang akan mengakhirinya studi di pascasarjana. Hasan S. Panigoro adalah mahasiswa pertama di Pascasarjana FMIPA UB yang mengkonversikan persyaratan akademiknya dengan telah menulis 3 artikel pada prosiding internasional terindeks SCOPUS, 2 artikel pada jurnal Nasional terakreditasi SINTA 2, dan 4 artikel yang dipublikasikan di jurnal Internasional bereputasi. 

Karya ilmiah Hasan dimuat pada jurnal Nasional terakreditasi SINTA 2 dengan judul “Dinamika Model Eko-Epidemiologi Orde-Fraksional dengan Pemanenan Pada Predator”.

Rabu (22/12/2021), Hasan yang bekerja sebagai dosen di Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo mengikuti diseminasi disertasi Program Doktor (S3) secara daring yang dipimpin oleh ketua sidang sekaligus Dekan FMIPA UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc dan dihadiri ketiga promotor S3 antara lain Prof. Dr. Agus Suryanto, M.Sc (Promotor), Dr. Wuryansari Muharini K., M.Si. (Ko-Promotor 1), Isnani Darti., M.Si., Ph.D (Ko-Promotor 2) juga kedua orang tua Hasan yakni Samsudin Panigoro dan Rabia Paramata sekaligus juga para penguji 1, Prof. Dr. Agus Widodo, M.Kes, dan Penguji 2, Dr. Trisilowati., M.Si. 

Dekan FMIPA UB sangat mengapresiasi dan bangga dengan prestasi Hasan dengan kelulusan tanpa ujian disertasi tersebut. 

“Prestasi yang luar biasa, ini yang saya idam – idamkan, terima kasih pada tim promotor yang telah meluangkan waktu yang luar biasa dan atas karya yang cukup bagus.”, ujar Widodo. 

Menurut Prof.Dr Edi Cahyono, M.Si, sebagai pembimbing eksternal, capaian ini adalah prestasi yang sangat membanggakan. Mahasiswa tidak harus keluar negeri untuk berprestasi, dan Hasan merupakan mahasiswa berprestasi pertama di Universitas Brawijaya program doktor (S3) yang mengkonversikan disertasinya dengan karya ilmiah pada jurnal bereputasi. 

“Semoga Hasan bisa melanjutkan risetnya untuk daerahnya dan juga untuk bangsa kita. Mudah – mudahan apa yg dilakukannya akan  menginspirasi kita smua. Saya juga berharap kerjasama antar Universitas kita bisa dimulai dan ditingkatkan. Selamat dan sukses untuk kemajuan Universitas Brawijaya  dan Universitas Negeri Gorontalo juga kemajuan bangsa kita”, Harap Edi.

Diseminasi disertasi Hasan sontak menjadi penuh dengan ucapan apresiasi pasalnya prestasi hasan cukup membuat kagum. Agus Widodo sebagai penguji pun merasa terharu karena Hasan memulai studi di Program Studi S3 Matematika dengan kemampuan menulis artikel yang biasa akhirnya menjadi penulis handal. Bagaimana tidak, dalam waktu 3,5 tahun, Hasan dapat melakukan publikasi sejumlah 19 artikel yang terdiri dari 1 buah artikel Prosiding Nasional, 6 artikel jurnal Nasional, 4 artikel jurnal Nasional terakreditasi (S2 dan S3), 3 buah artikel Prosiding Internasional  terindeks Scopus, 5 buah artikel jurnal Internasional bereputasi ( Terindeks Scopus ) sejak tahun 2019. 

“Saya sangat bangga dan terharu, prestasi Hasan membuat bangga Jurusan Matematika FMIPA UB. Dan saya bangga Jurusan Matematika FMIPA UB memiliki promotor handal yang mampu melahirkan mahasiswa berprestasi  seperti Hasan. Semoga kedepan model yang Hasan kerjakan dapat melahirkan artikel – artikel baru lainnya”, ujar Agus Widodo. 

Samsudin Panigoro dan Istri

Putra dari Samsudin Panigoro tersebut mengatakan bahwa ia sampai ke tahap ini karena memiliki promotor yg hebat, bukan sekedar membimbing, namun mereka melakukan pendekatan terbaik pada mahasiswa. 

“Bukan sekedar menjadi dosen atau promotor saja, tapi mereka menjadi orang tua saya”, ungkapnya. 

Selama menjalani studinya, ia mengaku mendapatkan banyak dukungan akademik dan juga dukungan moril.  Hasan juga menyampaikan apresiasinya pada promotor yang telah dengan tulus menerimanya sebagai bimbingannya. Walaupun awalnya sangat pedih harus menerima banyak revisi oleh ko-promotor, namun ia merasa berterima kasih, berkat hal tersebut makin hari kemampuan menulisnya makin meningkat. 

“Terima kasih  Prof Agus Suryanto, yg telah menerima saya walau awalnya belum tahu background keminatan saya, namun mau menerima saya menjadi bimbingannya.  Saya sempat tidur hanya 2-3 jam setiap hari diawal kuliah untuk belajar mengetahui apa yang tidak tahu menjadi tahu. Terima kasih Dr. Wuryansari, saya shock setiap halaman penuh coretan, namun gara – gara coretan itu, penulisan saya meningkat drastis. Berkat kuliah di Universitas Brawijaya, kini bagi saya menulis bukan hanya sekedar kewajiban tapi merupakan kebutuhan. Terima kasih semuanya, setiap diskusi menghasilkan hal baru sehingga saya sampai ditahap ini, semoga Allah membalas kebaikan Bapak Ibu berlipat lipat”, ujar Hasan. 

Dosen Universitas Negeri Gorontaoi tersebut tertarik dengan cabang dari ilmu Biologi. Hasan mengambil fokus di bidang Ekologi dan Epidemiologi. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang interaksi antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan juga dengan lingkungan sekitarnya. Sementara Epidemiologi adalah llmu yang mempelajari penyebaran penyakit antar populasi atau internal populasi. Sedangkan ilmu matematis yang mempelajari model kedua bidang itu  disebut Eko-Epidemiologi.

Danau Limboto, Gorontalo yang sedang kritis

Hasan pun mengambil obyek penelitian di danau Limboto provinsi Gorontalo, karena mengalami penyusutan air sekitar 50 ha pertahun. Kemudian ia mengklasifikasikan faktor penyebab penyusutannya antara lain berkembangnya tumbuhan enceng gondok, okupasi lahan, limbah rumah tangga, pembakaran liar, sedimentasi dan budidaya ikan. Setelah melakukan uji literatur maka ditemukan faktor yang paling berpengaruh, dalam hal ini adalah enceng gondok yang memiliki musuh alami yakni ikan Grasscarp dan jamur Fusarium. Jamur ini menginfeksi enceng gondok sehingga laju kematiannya meningkat. Lalu Hasan mencoba memodelkan ketiga makhluk hidup tersebut menjadi diagram Eko-Epidemiologi. Dari hasil pemodelannya, ia menspesifikasikan ikan grasscarp menjadi predator yang memangsa enceng gondok yang terinfeksi jamur Fusarium. Penelitian yang ia lakukan menggunakan model deterministik, turunan orde-fraksional, sedangkan proses predasi menggunakan Predator-Prey serta infeksi penyakit menggunakan model epidemi.

Dalam penelitian tersebut, ia membangun dan membuat asumsi, menentukan variabel dan berbagai parameter hingga menunjukkan kestabilan kondisi dengan simulasi numerik. Artikel tersebut memberikan solusi melalui pemodelan matematis situasi dari danau Limboto dalam mencapai kestabilan lingkungan dengan beberapa persyaratan kondisi. Untuk melihat kondisi pendangkalan danau berdasarkan kondisi kestabilan maka dilakukan simulasi numerik. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan titik kestabilan antara adanya kebijakan pemanenan ikan Grasscarp dan infeksi penyakit pada enceng gondok maka kondisi danau akan terjaga eksistensinya yang ditandai dengan bertambahnya volume danau Limboto. 

Melalui acara diseminasi disertasi ini, Agus Suryanto berharap Hasan akan mampu mewujudkan impiannya mengembangkan pemodelan matematika di Gorontalo serta mampu menyumbangkan buah pemikirannya untuk solusi masalah – masalah yang timbul  berasarkan ilmu yang didapatnya selama studi di Jurusan Matematika Universitas Brawijaya. (yogie)