Pandangan Pakar Geofisika Tentang Bencana Semeru

  • Post author:
  • Post category:Berita
  • Reading time:5 mins read

Peristiwa meletusnya gunung Semeru terjadi akibat akumuluasi dari erupsi yang sering terjadi pada tiap harinya. Menurut pakar ilmu geofisika kebencanaan dan eksplorasi sumber daya alam, Prof. Drs. Adi Susilo, MS. gunung Semeru mengalami erupsi hampir 50 kali dalam sehari. Menurutnya erupsi merupakan proses alami yang berkaitan dengan proses endogenik dan disebabkan karena ketidakstabilan dapur magma. 

Erupsi merupakan aktivitas magma di dalam perut bumi didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi. Misalkan pagi hari terjadi kepulan asap, ini dinamakan erupsi. Erupsi  membawa awan yang membawa material-material pasir yang tertumpuk di sekeliling kawah ke atas dengan ketinggai 300-500 meter. Sementara guguran awan panas merupakan peristiwa ketika suspensi dari material gunung berupa batu, kerikil, abu, pasir dalam suatu massa gas vulkanik panas keluar dari gunung berapi”, papar Adi. 

Adi menjelaskan bahwa peristiwa erupsi adalah peristiwa biasa yang terjadi secara alamiah yang dialami setiap gunung berapi. Walaupun erupsi gunung Semeru tiap hari bisa sampai 50 kali, namun ini tidak terlalu berbahaya. Kondisi menjadi bahaya ketika awan panas yang mengandung banyak material mulai dari, abu, batu, kerikil, pasir keluar disertaih dengan lahar yang juga dimuntahkan baik lahar panas maupun lahar dingin hasil dari pemasakan yang terjadi di dapur magma.

Sejak November lalu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat adanya peningkatan aktivitas vulkanik berupa gempa erupsi Gunung Semeru.

“Dikatakan bencana karena proses erupsi menelan korban. BMKG telah memperingatkan namun karena terlalu sering erupsi biasa akhirnya peringatan tersebut tidak terlalu dihiraukan”, papar Adi pada Humas FMIPA.

Namun akhir – akhir ini gunung berapi lainnya tiba – tiba mengalami erupsi  disebabkan karena alam sedang beradaptasi dan mencari kestabilan. Gejala ini dialami Merapi dan Sinabung. Guru besar bidang Geofisika pertama di Universitas Brawijaya ini menyarankan masyarakat agar tidak menjadikan lereng gunung sebagai tempat aktifitas maupun tempat tinggal.  

Mantan Dekan FMIPA tersebut kembali menegaskan bahwa guguran awan panas Semeru bukan berasal dari erupsi atau letusan seperti pada merapi atau kelud. Awan panas guguran tersebut berasal dari keluarnya lava, gas dan abu yang terus menerus menumpuk dan volumenya makin besar sehingga membentuk kubah lava. Kubah lava yang semakin besar menjadi labil / tidak seimbang sehingga keluar dari kawahnya. isi dari kubah lava tersebut tentu tidak hanya batuan, namun juga berupa cairan sehingga saat kubah pecah dan longsor, ditambah hujan yang lebat akhirnya terjadi guguran / longsoran dan terjadi erupsi sekunder disertai awan panas guguran. 

Lanjutnya, saat ini antisipasi yang bisa dilakukan adalah masyarakat harus dapat beradaptasi dengan kondisi gunung berapi dan melakukan mitigasi / pengurangan resiko paling tidak berada diluar jangkauan awan panas sekitar 5-10 km dari pusat gunung. Untuk menjaga kelestarian alam, kearifan lokal juga perlu diaktifkan kembali, pertanda alam perlu diperhatikan. Kearifan lokal tersebut berupa prinsip-prinsip dan cara-cara tertentu yang dianut, dipahami, dan diaplikasikan oleh masyarakat lokal dalam berinteraksi dan berinterelasi dengan lingkungannya dan ditransformasikan dalam bentuk sistem nilai dan norm adat. Kearifan lokal biasanya berasal dari pengalaman suatu komunitas dan akumulasi dari pengetahuan lokal, sedangkan kearifan lokal itu ada dalam masyarakat, komunitas dan induvidu.  Menjaga alam memang sudah menjadi salah satu tugas manusia. Dan setiap perkumpulan manusia punya caranya masing-masing yang kemudian dilakukan secara turun-temurun, inilah yang menjadi kearifan lokal. Akhirnya, melahirkan kerukunan antara manusia dan alam. 

Sementara itu, Pakar Geofisika Prof. Dr. Sunaryo, M.Si mengatakan bahwa letusan Semeru kali ini istimewa. Menurutnya korban jiwa akibat letusan Semeru di tahun sebelumnya tidak sebanyak yang terdampak pada kali ini. Ia menjelaskan bahwa kedalaman magma chamber Semeru kira – kira 2 km sehingga letusan tidak terlalu besar. Hal ini berbeda dengan Kelud yang memiliki kedalam magma chamber sekitar 4.5 km. 

“Kejadian bencana Semeru menjadi perhatian kita semua, kita perlu tingkatkan pemantauan aktifitas vulkanik dan upaya mitigasi”, ujarnya.  

Ketua program studi Teknik Geofisika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya ini menjelaskan seiring dengan perkembangan waktu, terjadi perubahan karakter dari gunung Semeru yang awalnya hanya letusan kecil menjadi erupsi yang luarbiasa. Sunaryo mengatakan perubahan ini menjadi pertanda bahwa kita harus waspada dan melakukan edukasi secara masif. Sistem early warning yang berfungsi secara baik harusnya dapat menghindarkan masyarakat dari bencana.  

Magma yang keluar menjadi lava dan menjadi lahar dingin gunung Semeru dinilai menjadi kejadian yang luar biasa menurutnya. 

Lebih lanjut, Sunaryo menghimbau untuk menyampaikan setiap informasi aktifitas vulkanik secara masif melalui media sosial dan  pos pos pantau.

“Intinya fasilitas early warning system dengan parameter yang diperkirakan dianjurkan untuk disosialisasikan pada masyarakat secara masif”, tegasnya.

Disamping itu juga ia memberikan saran pada pemerintah untuk membuat shelter longsor dan banjir yakni semacam bunker untuk tempat berlindung ketika terjadi bencana. (yogie)