Ditulis pada tanggal 14 November 2017, oleh Admin News, pada kategori Dekanat Note

BKD dan Kontrak Kinerja Universitas, yang diturunkan ke Fakultas, selanjutnya diturunkan ke Jurusan dan para dosen adalah merupakan suatu keniscayaan. Di dalam melaksanakan suatu amanah serta tanggung jawab, suatu target serta planning harus selalu diperhatikan. Tidak terkecuali dengan Fakultas Mipa dan turunannya, yaitu Dekanat, Jurusan dan sebagai pelaku serta penyedia hasil adalah dosen dibantu oleh tenaga kependidikan.

Fakultas Mipa mendapatkan kontrak kinerja dari Universitas. Yang biasanya paling disoroti adalah publikasi, karena hal ini juga merupakan program dan unggulan dari Kemenristekdikti. Indonesia saat ini sudah berada nomer 3 untuk tingkat Asean. Tahun tahun sebelumnya selalu ada di tingkat 4 atau dibawahnya. Saat ini sudah bisa mengungguli Thailand dalam hal jumlah publikasi.

Tentunya kita semua bangga pada satu sisi, namun juga menjadikan tantangan yang baru disisi lainnya. Untuk mewujudkan iklim publikasi, tidaklah hanya semata-mata kemauan dan kemampuan menulis. Namun juga kemauan dan kamampuan tentang tersedianya sesuatu yang bisa ditulis. Untuk bisa mendapatkan sesuatu yang bisa ditulis, tentuanya harus ada bahan yang bisa ditulis. Nah bahan yang bisa ditulis, tentuanya merupakan suatu data yang keabsahan dan ke validannya bisa diakui, tidak saja oleh ilmuwan dalam negri, tetapi juga oleh ilmuwan luar negri. Apakah yang menyebabkan suatu data itu bisa diakui? Tentunya adalah meliputi permasalahan yang diteliti, alat laboratorium untuk meneliti serta metodologi yang bisa diterima. Permasalahan dan metodologi bisa didapat dan dipelajari, namun alat laboratorium tidak bisa dipungkiri, harus bisa menghasilkan data yang bisa dipercaya.

Fakultas MIPA, merupakan Fakultas yang memang dari namanya, sudah merupakan kumpulan staf pengajar/dosen yang mempelajari alam dan matematika. Ada yang bisa dengan cara biasa bisa mendapatkan data yang bisa dipercaya oleh kalangan internasional, yaitu yang berbasiskan oleh kondisi alam yang memang tidak sama dengan kondisi luar negri. Hal hal ini yang mestinya perlu untuk banyak di explore oleh kalangan staf/dosen MIPA. Kondisi yang lainnya adalah kondisi yang bersifat general, yaitu bisa mendapatkan data yang valid jika mempunyai perlatan yang standard dengan laboratorium di luar negri, atau di institusi lain yang ada di Indonesia. Tentunya ini akan memerlukan waktu dan biaya, kaena harus antri untuk analisis data. Untuk kondisi yang seperti ini, kita bersyukur karena adanya hibah laboratorium. Semoga dengan adanya hibah ini, kondisi ini dapat lebih memicu lagi penelitian dan publikasi yang bersifat general. Hal ini pada gilrannya juga akan menaikkan publikasi FMIPA, UB dan Indonesia. Semoga program yang dicanangkan oleh induk kita, yaitu Unversitas Brawijaya dan Kemenristekdikti, bisa kita laksanakan dengan semaksimal mungkin dan sebaik baiknya. (Dekan FMIPA UB)