Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA UB) kembali  menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk  Molecular Mechanism of Sex Differentation of Animals.  Kuliah umum tersebut menghadirkan narasumber ahli Molecular Biology , School of Medical Science dari Kyushu University of Japan, Prof. Ken Ichirou Morohashi, Ph.D. bertempat di gedung MIPA CENTER ruang MC.1.1, Kamis (6/9).

Prof. Morohashi menjelaskan tentang diferensiasi jenis kelamin secara molekulear. Kajian tersebut didasarkan pada dua hal besar, meliputi gen pengkode jenis kelamin dan hormon yang menentukan jenis kelamin. Secara biologi definisi jantan adalah mereka yang memproduksi sperma, sedangkan  betina adalah  mereka yang memproduksi sel telur.

Selain melalui gen dan hormon  pada kelompok reptil, suhu lingkungan juga dapat menentukan jenis kelamin. Pada kelompok pisces atau ikan, beberapa spesies dapat mengganti jenis kelaminnya berdasarkan jumlah individu pada populasinya. Apabila pada suatu  populasi terdapat  hanya betina saja, maka beberapa individu akan berubah menjadi jantan. Hal ini dicontohkan pada kasus sex reversal pada Thalassoma duperrey.

Secara molekular, gen pengkode jenis kelamin adalah gen SRY yang menginduksi perkembangan testis pada jantan.  Gen pengkode jenis berbeda untuk tiap spesies sehingga pada mamalia (khususnya manusia), ketiadaan gen tersebut akan mengakibatkan individu berkembang menjadi betina. Perkembangan tersebut diiringi dengan perkembangan organ kelamin (testis dan ovarium) yang mampu mensintesis gen steroid ( Androgen dan Estrogen ).

Prof. Morohashi mengambil kasus dari pasien di Jepang yang mempunyai gen SRY pada kromosom Y (normalnya individu yang mempunyai kromoson Y akan berkembang menjadi laki-laki). Dengan adanya gen tersebut maka  selama perkembangan janin, ia akan memiliki testis dan juga hormon Androgen.  Namun ketika lahir, fenotip yang dihasilkan justru berkembang menjadi perempuan.  Setelah diteliti, penyebabnya adalah reseptor dari Androgen individu tersebut mengalami mutasi sehingga tidak berikatan dengan Androgen yang diproduksi olehnya. Oleh sebab itulah meskipun memiliki hormon Androgen, individu tersebut tidak bisa menghasilkan perwujudan laki – laki karena Androgen yang dihasilkan tidak bisa diproses oleh sel untuk menghasilkan karakter laki – laki. Hasilnya individu tersebut justru mengembangkan karakter perempuan dibanding laki – laki, meskipun ia mempunyai kromoson Y dan gen SRY [yogie].

Close Menu