Program studi Teknik Geofisika Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya menyelenggarakan Kegiatan Workshop On Geophysical Methods 2018 di gedung MIPA CENTER lantai 1, Senin (10/9).

Dengan mengangkat tema “Analysis of Geothermal System and Structure on Geothermal of Geotechnopark Potential at Cangar, Batu, East Java of Indonesia”. Workshop ini merupakan sebuah platform nasional yang bertujuan untuk mempertemukan para akademisi, peneliti, dan mahasiswa yang terlibat dalam bidang Geophysic. Acara yang diselenggarakan di Fakultas MIPA ini turut mengundang sejumlah ahli geophysic yang ada di Indonesia.

Dekan FMIPA, Drs. Adi Susilo, M.Si., Ph.D secara resmi membuka acara Workshop.  Pembukaan Workshop dihadiri pembicara dan seluruh peserta yang terdiri dari satu orang peserta asal Institut Teknologi Bogor (ITB), enam orang dari Institut Teknologi Surabaya (ITS), dua orang peserta dari Universitas Jambi, serta 13 peserta dari Universitas Brawijaya (UB).

Dalam sambutannya Dekan FMIPA, Drs. Adi Susilo, M.Si., Ph.D menyampaikan bahwa tujuan diadakannya Workshop ini adalah menambah skill dan pengetahuan bersama. Ia juga menyampaikan bawah saingan kita saat ini bukan dari dalam negeri, namun dari luar negeri, maka dari itu kerjasama yang sangat positif akan bermanfaat. “Workshop seperti ini biasanya bernilai dua puluh lima juta rupiah, namun kali ini kita beruntung mendapatkan training tanpa biaya”, ujar Dekan.

Workshop ini diadakan mulai Senin – Jum’at tanggal 10-14 September 2018 berlokasi di taman wisata Cangar, Kota Batu Jawa Timur.  Dihari pertama pembukaan, hadir sebagai pembicara utama (1) Riki Irfan, ST., M.Si, Technical Subsurface Maganer dari PT. Medco Cahya Geothermal, (2) Suwarto, S.Si, Section Chief of Observation and Information System, (3) Sukir Maryanto,M.Si., Ph.D, Dosen Jurusan Fisika FMIPA UB.

Riki mengungkapkan, Indonesia terletak di antara Cincin Api sepanjang kepulauan timur laut berbatasan langsung dengan New Guinea dan di sepanjang sabuk Alpide selatan dan barat dariSumatera, Jawa, Bali, Flores, dan Timor. Dari sebanyak 129 gunung api di Indonesia atau 13 persen dari seluruh gunung api di dunia, terbentang dari pulau Sumatera menyusuri pulau Jawa kemudian menyeberang ke Bali, Nusa Tenggara hingga bagian timur Maluku dan berbelok ke utara pulau Sulawesi.  Oleh karena itu Indonesia merupakan salah satu sumber geothermal paling besar di dunia.

Riki  menjelaskan bahwa para investor asing sangat berminat untuk menggarap geothermal ini karena bisa berpotensi menjadi peringkat 1 didunia yang disebabkan banyak gunung serta gempa.  Indonesia memiliki 40% dari potensi sumber daya panas bumi dunia, diperkirakan 28.000 megawatt (MW).  Saat ini Indonesia adalah produsen listrik panas bumi kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Kapasitas produksi terpasang (2011) hampir 1.200 MW dari enam ladang panas bumi di Jawa, Sumatra Utara dan Sulawesi Utara. Pada tahun 2007, energi panas bumi mewakili 1,9% dari total pasokan energi negara dan 3,7% dari tenaga listriknya.

Sukir Maryanto, M.Si., Ph.D memaparkan bahwa energi yang dimanfaatkan di Indonesia baru 5%.  Saat ini pengembangan geothermal memiliki kendala dari segi teknologi dan juga perizinan, dalam hal ini terkait pembebasan lahan.

Dalam kegiatan workshop di Cangar Kota Batu nanti, peserta akan belajar mencari potensi struktur bawah tanah dengan menggunakan peralatan seperti Mikroseismik, Gravity dan Magneto Telorik. Riki mengingatkan agar selalu membawa safety agar dilapangan tidak terkontaminasi oleh zat yang tidak tampak terutama yang tidak berbau [yogie].

Close Menu